laskarhabsy.blogspot.com

Minggu, 18 Januari 2009

kejujuran seorang saudagar permata

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga kedainya kerana ia akan keluar solat. Ketika itu datanglah seorang badwi yang hendak membeli perhiasan di kedai itu.

Maka terjadilah jual beli di antara badwi itu dan penjaga kedai yang diamanahkan tuannya tadi. Satu barang perhiasan permata yang hendak dibeli harganya empat ratus dirham. Saudara kepada Yunus menunjukkan suatu barang yang sebetulnya harga dua ratus dirham. Barang tersebut dibeli oleh badwi tadi tanpa diminta mengurangkan harganya tadi. Ditengah jalan, dia terserempak dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si badwi yang membawa barang perhiasan yang dibeli dari kedainya tadi.

Sepertinya dia mengenali barang tersebut adalah dari kedainya. Saudagar Yunus bertanya kepada badwi itu, "Berapakah harga barang ini kamu beli?" Badwi itu menjawab, "Empat ratus dirham." "Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham saja. Mari ke kedai saya supaya saya dapat kembalikan uang selebihnya kepada saudara." Kata saudagar Yunus lagi. "Biarlah, ia tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham." Tetapi saudagar Yunus itu tidak mahu melepaskan badwi itu pergi.

Didesaknya juga agar badwi tersebut balik ke kedainya dan bila tiba dikembalikan uang baki kepada badwi itu. Setelah badwi itu pergi, berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali ganda?" Marah saudagar Yunus lagi. "Tetapi dia sendiri yang mahu membelinya dengan harga empat ratus dirham." Saudaranya cuba mempertahankan bahwa dia dipihak yang benar. Kata saudagar Yunus lagi, "Ya, tetapi di atas belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri."

Jika kisah ini dapat dijadikan tauladan bagi peniaga-peniaga kita yang beriman, amatlah tepat. Kerana ini menunjukkan peribadi seorang peniaga yang jujur dan amanah di jalan mencari rezeki yang halal. Jika semuanya berjalan dengan aman dan tenteram kerana tidak ada penipuan dalam perniagaan. Dalam hal ini Rasulullah S.A.W bersabda, "Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas dan memberi rezeki dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi di jiwa atau diharga." (Diriwayat lima imam kecuali imam Nasa'i)

kasih sepanjang jalan

Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.

Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.

Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak�c". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal�c

Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.

Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.

Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.

Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.

Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.

Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.

Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini�c" bisikku perlahan.

Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.

Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.

Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.

Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....

Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.

Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.

Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.

Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...

Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.

panduan mirc dalam dalnet

/nick (nick baru) = mengganti nickname anda
/notice (nick) (pesan) = notice ke nick
/join (#channel) = masuk chennel
/say (pesan) = seperti chat biasa
/part (#channel) = keluar dari channel
/msg (nick) (pesan) = kirim msg ke nick
/quit = keluar dari IRC
/notify (nick) = agar tau nick tersebut online / tidak
/notify - (nick) = menghilangkan (nick) dari notify list
/quit (pesan) = quit dengan pesan kamu
/server (nama server) = ganti server
/query (nick) = private msg ke user
/invite (nick) (#channel) = invite user
/dcc chat (nick) = dcc chat ke nick
/dcc send (nick) (filename) = kirim file
/mode (nick kamu) +I = ubah mode menjadi invisible (tidak kelihatan di /who #channel oleh orang)
/ignore (nick) atau /ignore *@IPnya = abaikan user, semua tulisannya tidak akan kita lihat
/me (pesan) = action, hasilnya *(nick) (pesan)
untuk diminculkan ke semua channel yang kita OL
/list = melihat list semua chennel
/who (nick/#channel) = melihat keterangan user atau chennel
/whois (nick) = melihat keterangan ttg user
/away (pesan) = pergi sesaat dengan pesan
/away = menyatakan balik dari away
/ctcp (nick) ping = periksa berapa lama ketikan kamu sampai ke user
/ctcp (nick kamu) ping = cek lag kamu sendiri
/uwho (nick) = melihat U central nick
/clear = bersihkan layar aktif

Perintah Standar Untuk Operator Channel

/kick (#channel) (nick) = kick user
/topic (#channel) (topiknya) = mengganti topik channel
/kick (nick) (#channel) (alasan) = kick user dengan alasan
/mode (#channel) +b *!*@IPnya = Band IP user
/mode (#channel) +b nick! username@host.add.ress = Ban user
/mode (#channel) –b *!*@IPnya = buka Ban user, missal /mode #dewata +b *!*@202..133.80.*
/mode (#channel) +o (nick) = memberikan Op pada user
/mode (#channel) +v (nick) = memberikan voice pada user
/mode (#channel) – o (nick) = menurunkan user agar tidak Op lagi
/mode (#channel) –v (nick) = mengambil voice user
/mode (#channel) +/- ntispklRrmc = set mode channel
/channel = melihat mode dan ban list channel

/mode #ch +vvv n1 n2 n3 = memberi voice ke byk orang
/chanserv sop #ch add nick = memberi SOP

Perintah ChanServ Dalnet

ket: (A) = semua, (AOP) = minimal aop, (SOP) = minimal sop, (F) = founder

/chanserv info (#channel) = melihat info channel (A)
/chanserv invite (#channel) (nick) = minta chanserv untuk invite (A)
/chanserv unban (#channel) (nick kamu) = Unban diri kamu (AOP)
/chanserv unban (#channel) * = unban semuanya (AOP)
/chanserv register (#channel) (passwd) (desikripsi) = register channel baru (F)
/chanserv identify (#channel) (passwd) = identify channel (F)
/chanserv drop (#channel) = drop channel (F)
/chanserv set (#channel) passwd (pass baru) = ganti password channel (F)
/chanserv set (#channel) founder = set sbg founder baru (F)
/chanserv set (#channel) desc (deskripsinya) = set deskripsi channel (F)
/chanserv set (#channel) topic (topiknya) = set topik channel (F)
/chanserv set (#channel) url (alamat url-nya) = set webpage channel (F)
/chanserv set (#channel) mlock (tulis modenya) = set kunci mode channel mis. +nt-ispklR (F)
/chanserv set (#channel) ident (on/off) = set ident aktif/tidak (F)
/chanserv set (#channel) restrict (on/off) = set restrict channel (F)
/chanserv set (#channel) keeptopic (on/off) = set keep topik channel (F)
/chanserv set (#channel) topiclock (sop/founder/off) = set topiklock channel (F)
/chanserv set (#channel) opguard (on/off) = set opguard
/chanserv set (#channel) memo (none/aop/sop/founder) = set memo level channel (F)
/chanserv why (#channel) (nick) = melihat akses yang dipakai nick untuk jadi op (AOP)
/chanserv op (#channel) (nick) = mengangkat menjadi op (AOP)
/chanserv deop (#channel) (nick) = menurunkan dari op (AOP)
/chanserv (aop/sop/akick) (#channel) list = melihat daftar aop, sop, atau akick
/chanserv aop (#channel) add (nick) = jadikan aop (SOP)
/chanserv sop (#channel) add (nick) = jadikan sop (F)
/chanserv aop (#channel) del (no. list aop) = hapus aop (SOP)
/chanserv sop (#channel) del (no. list sop) = hapus sop (F)
/chanserv (aop/sop/akick) (#channel) (add/del) nick!username@host.add.ress = masukkan/hapus dari list (SOP)
/chanserv mdeop (#channel) = mass deop channel, tapi aop tdk bisa deop sop dan founder (AOP)
/chanserv mkick (#channel) = mass kick channel (SOP)

/cs set #chanel mlock +nt-c <<>

/cs set #chanel opguard on <<>


Perintah NickServ Dalnet

/nickserv register (password) (email) = register nick
/nickserv ghost (nick) (passwd) = kill ghost yaitu bila nick dipakai orang atau tertinggal di channel
/nickserv identify (password) = identify nick
/nickserv set kill (on/off) = set kill nick
/nickserv recover (nick) (passwd) = recover nick
/nickserv release (nick) = release nick
/nickserv drop (nick) = drop nick
/nickserv set passwd (passwd baru) = ganti password nick
/nickserv set noop (on/off) = set no op untuk nick
/nickserv set nomemo (on/off) = set no memo untuk nick
/nickserv info (nick) = mengetahui informasi tentang nick

Perintah MemoServ Dalnet

/memoserv list = melihat daftar memo anda
/memoserv send (nick) (pesan) = kirim memo
/memoserv send (#channel) (pesan) = kirim memo ke op
/memoserv read (no. list memo) = baca memo yang ke berapa (sesuai list memo)
/memoserv del (no. list memo) = hapus memo no di list
/memoserv undel (no. list memo) = undel memo

DALnet Servers

Ketikkan /server (namaServer) untuk ganti server
contoh: /server hotspeed.sg.as.dal.net

CA Servers :Canada

/server maple.ix.ca.dal.net

EU Servers :Eropa

/server mozilla.se.eu.dal.net
/server powertech.no.eu.dal.net
/server slimey.uk.eu.dal.net
/server genesis-r.uk.eu.dal.net
/server matrix.de.eu.dal.net
/server arcor.de.eu.dal.net

AS Servers :Asia

/server hotspeed.sg.as.dal.net
/server mesra.kl.my.dal.net

US Servers :Amerika Serikat

/server aeon.nj.us.dal.net
/server broadway.ny.us.dal.net
/server hollywood.ix.us.dal.net
/server jade.va.us.dal.net
/server jingo.ix.us.dal.net
/server loyalty.ix.us.dal.net
/server masters.ix.us.dal.net
/server novel.fl.us.dal.net
/server redemption.ix.us.dal.net
/server rumble.fl.us.dal.net
/server serenity.ix.us.dal.net
/server soho.ix.us.dal.net

laskar

ne baru coba coba buat blog sendiri. jadi rada ngga jelas kaya gitu deh. muup yah.